Dampak Keterbatasan Fasilitas dan Infrastruktur Terhadap Partisipasi Perempuan Dalam Konservasi Alam: Studi Kasus Pandangan Staf BKSDA
DOI:
https://doi.org/10.71094/jmsh.v2i1.271Keywords:
pandangan staf BKSDA, konservasi lingkungan, perempuan, ekofeminisme, pembangunan berkelanjutanAbstract
Konservasi alam diakui sebagai pilar krusial pembangunan berkelanjutan, namun sering kali mengabaikan dimensi gender. Perempuan, yang memiliki pengetahuan ekologi lokal dan peran sentral dalam pengelolaan sumber daya, menghadapi hambatan struktural yang menghalangi partisipasi penuh mereka di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam hambatan fasilitas dan infrastruktur yang dihadapi perempuan dalam kegiatan konservasi dari perspektif pemangku kepentingan institusional. Menggunakan metode "mini riset" kualitatif dengan pendekatan studi kasus ilustratif, penelitian ini melakukan wawancara mendalam dengan seorang staf perempuan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur. Wawancara ini dianalisis menggunakan kerangka teoretis berlapis yang mencakup ekofeminisme, kerangka Kebutuhan Praktis vs. Strategis (GAD) dari Moser, dan Sustainable Livelihoods Framework (SLF). Analisis tematik terhadap wawancara tersebut mengidentifikasi beberapa temuan kunci: (1) Keterbatasan infrastruktur dasar terutama toilet yang tidak layak dan sulitnya akses air bersih adalah hambatan nyata dan sering dialami perempuan saat melakukan kegiatan lapangan seperti patroli atau inventarisasi di daerah terpencil. (2) Hambatan mobilitas (transportasi) ke lokasi yang jauh juga menjadi tantangan signifikan yang direspons institusi dengan segregasi tugas berbasis gender. (3) Kebutuhan mendesak yang teridentifikasi adalah penyediaan "fasilitas ramah gender," dengan air bersih dan toilet sebagai prioritas utama. (4) Ditemukan pula bahwa perempuan sudah berperan vital dalam konservasi, khususnya di persemaian, karena dinilai lebih sabar dan teliti. Pembahasan mendalam menunjukkan bahwa kegagalan dalam memenuhi Kebutuhan Praktis Gender (akses infrastruktur) secara langsung menghalangi perempuan untuk berkontribusi secara strategis dan mengakses pengembangan karier di lapangan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengaruh utama gender dalam konservasi harus dimulai dari investasi konkret pada infrastruktur fisik yang mendasar, sebagai prasyarat untuk partisipasi yang adil dan berkelanjutan.
References
Agarwal, B. (2021). Gendered impacts of climate change vs. women's agency: Implications for sustainable development. Journal of Sustainable Development, 29(4), 345-367. Arora-Jonsson, S. (2022). The burden of representation: Women, climate policy, and the limits of participation. Climate and Development, 14(3), 211-225.Bennett, N. J., et al. (2021). Social equity and impacts of conservation. Conservation Science and Practice, 3(5), e394.BPS (Badan Pusat Statistik). (2024). Statistik Gender dan Akses Infrastruktur Indonesia 2024. BPS.Braun, V., & Clarke, V. (2022). Thematic analysis: A practical guide. Sage publications.Chambers, R., & Conway, G. (1992). Sustainable rural livelihoods: Practical concepts for the 21st century. IDS Discussion Paper 296.Chigwanda, P. (2023). Gender, infrastructure, and rural livelihoods: The burden of water collection in Sub-Saharan Africa. Water Policy, 25(1), 88-104Clement, F., & Kkapil, M. (2022). Beyond tokenism: Gender mainstreaming in community forestry in Nepal. Forest, Trees and Livelihoods, 31(2), 101-118.Dutta, S. (2023). Ecofeminist philosophy and the call for sustainable policy. Environmental Values, 32(4), 451-470.Elmhirst, R., & Resurreccion, B. P. (2022). Gender, infrastructure, and the new extractive frontiers. Journal of Rural Studies, 92, 234-242.FAO (Food and Agriculture Organization). (2023). The status of women in agrifood systems. FAO
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Atika Aprilia Juisa , Anggun Kurnianingsih, Suryaningsi (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







